KONDISI GEOGRAFIS LASEM
Lasem berada di pesisir pantai utara pulau Jawa dengan suasana tropis, tanah yang subur, hutan, pegunungan serta bentang pantai yang memanjang. Di Lasem terdapat banyak teluk - teluk yang melatar belakangi daerah Lasem berkembang menjadi daerah pelabuhan yang besar pada masanya. Hal ini menjadikan kawasan Lasem sebagai lalu lintas perdagangan antar kerajaan pada masa lampau. Selain garis pantai yang membentang, Lasem juga terdapat daerah dataran serta lembah yang terletak di selatan garis pantai. Di sisi timur Lasem terdapat sebuah gunung bernama Gunung Argopuro.
KERAJAAN LASEM
Penamaan Kerajaan Lasem pertama kali disebut dalam piagam Singosari yang berangka tahun 1273 saka atau 1351 Masehi. Kerajaan Lasem pertama kali dipimpin oleh seorang ratu bernama Ratu Duhitendu Dewi (Indu Dewi) yang bergelar Bhre Lasem. Dewi Indu merupakan sepupu dari Hayam Wuruk, Raja Majapahit. Dari piagam Singosari tersebut menyebutkan bahwa Lasem sebelum 1351 M bukanlah daerah yang penting. Dapat disimpulkan bahwa kemungkinan Lasem telah ada sebelum tahun 1351 M atau bahkan sudah ada pada zaman Kerajaan Kediri sekalipun hanya sebagai daerah setingkat pakuwu atau kadipaten.
Keberadaan Lasem sebagai kerajaan yang berdaulat diperkuat oleh Nagarakertagama yang menyebutakan ketika Arya Wiraraja ayahanda Nambi sakit keras di Lumajang, orang - orang penting Kerajaan Majapahit datang untuk menjenguknya. Salah satu dari rombongan tersebut adalah Adipati Lasem atau "Ra Lasem", seorang loyalis Raden Wijaya yang membantu dalam pendirian Kerajaan Majapahit. Sayangnya Jayanegara, raja yang memimpin Majapahit pada masa itu terhasut oleh omongan Mahapati, bahwa Nambi sedang merencanakan pemberontakan untuk menyerang Kerajaan Majapahit dan sedang menghimpun kekuatan di Lumajang. Jayanegara kemudian mengirim pasukan untuk menggempur Lumajang. Nambi dan pasukannya akhirnya gugur oleh serbuan pasukan Jayanegara termasuk Adipati Lasem yang ikut membela Patih Nambi.
Dari sepengga kisah tersebut bisa disimpulkan bahwa sebelum adanya piagam Singosari tahun 1273 saka atau 1351 Masehi, Lasem sudah ada sebagai suatu daerah berdaulat. Kitab Nagarakertagama juga menyebutkan bahwa Bhre Lasem pertama Duhitendu Dewi merupakan salah satu penguasa dari 11 kerajaan khusus di Jawa. Ia juga menjadi salah satu dari sembilan Dewan Petimbangan Agung Kerajaan Majapahit. Dengan adanya statement ini, bisa disimpulkan bahwa Bhre Lasem mempunyai peranan istimewa di Kerajaan Majapahit. Bila kerajaan - kerajaan lain taklukan Majapahit diatur dalam undang - undang kerajaan Majapahit, berbeda dengan ke sebelas kerajaan yang dikuasakan kepada kerabat raja Majapahit. Kesebelas kerajaan ini merupakan penopang Kerajaan Majapahit baik dalam sisi sosial, ekonomi dan politik bagi keberlangsungan imperium Majapahit di Nusantara.
Sementara itu, dalam Pararaton menyebutkan "Adapaun adik perempuan Hayam Wuruk, Bhre Lasem, menikah dengan Raja Matahun Rajasawardhana; sedangkan adik termuda, Bhre Lasem menurunkan putri bernama Nagarawardhani, yang kemudian dinikahkan dengan putra Hayam Wuruk dari selir, bernama Bhre Wirabhumi. Bhre Wirabhumi nikah dengan Bhre Lasem sang Alemu (Bhre Lasem yang gemuk / Bhre Lasem III)". Dengan begitu, Nagarawardhani dalam Nagarkertagama sama dengan Bhre Lasem jeng Alemu dalam Pararaton.
Selama 120 tahun, Lasem dipimpin oleh lima orang ratu. Pengangkatan perempuan sebagai pemimpin kerajaan senada dengan apa yang ada di Kerajaan Majapahit dengan diangkatnya Tribhuana Tungga Dewi dan Diyah Wiyat sebagai raja yang berkuasa di Kahuripan dan Dhaha.
a. Masa Pemerintahan Duhitendu Dewi (Bhre Lasem I)
Wilayah Lasem pada masa Duhitendu Dewi begitu luas. Bhre Lasem menikah dengan Bhre Matahun, dengan demikian kedua wilayah kerajaan vasal ini menyatu atas hubungan perkawinan. Selain menjabat sebagai Bhre Matahun, Rajasa Wardhana juga menjabat sebagai seorang panglima perang yang memiliki pangkalan laut di pelabuhan Lasem, tepatnya di teluk Regol dan Kairingan. Salah satu dari dua pelabuhan tersebut menjadi bandar perniagaan besar dengan Rajasa Wardhana sebagai Dampoawangnya (syahbandar).
Dalam Carita Lasem diceritakan "Lasem sebagai kota raja yang nyaman, tertata dengan asri dan indah. Keratonnya terletak di bumi Kriyan menghadap ke arah laut dengan agungnya. Di dalamnya terdapat kompleks - kompleks bangunan, balai kambang yang luas, Taman Kamala Puri dan Taman Sari yang teratur dan indah. Di sepanjang jalan - jalan negeri berbagai pepohonan, mandira, sawo kecik berjajar di kiri dan kanan jalan membuat keteduhan. Di setiap perempatan jalan terdapat pohon beringin yang merindang. Pemukiman penduduk tertera dan terpola dengan bentuk joglo berbahan kayu jati yang depannya berteras, halamannya luas serta dipenuhi dengan pepohonan dan bunga - bungaan. Sementara di pedesaan keseburan tanah - tanah olahan para penduduk dengan hasil persawahan dan perkebunan yang melimpah. Dewi Indu (Duitendu Dewi) adalah seorang ratu yang sangat dicintai rakyatnya dan ia pun dijuluki sebagai titisan dari Sang Bathari. Ia memerintah Kerajaan Lasem dengan adil dan bijaksana, pengayom rakyat dengan kekuasaannya yang lurus lagi kuat".
Duhitendu Dewi sebagai Bhre Lasem menikah dengan Rajasa Wardhana sebagai Bhre Matahun. Dua pemimpin kerajaan tersebut kemudian meleburkan wilayah kekuasaannya menjadi satu. Rajasa Wardhana kemudian mengubah Lasem sebagai pangkalan laut Majapahit dengan Teluk Regol dan Kairingan sebagai pangkalan utama kapal tempur dan kapal ekspedisi Majapahit. Tak jauh dari wilayah ini juga terdapat galangan kapal untuk memproduksi kapal tempur dan kapal niaga Kerajaan Majapahit.
Lasem menjadi semakin ramai dari masa ke masa berkembang menjadi wilayah perdagangan antar negeri. Dari pasangan Bhre Lasem dan Bhre Matahun kemudian melahirkan Negara Wardani yang kemudian menjadi pemimpin Lasem selanjutnya (Bhre Lasem kedua) dan diperistri Bhre Wirabumi. Dalam naskah lain menyebutkan bahwa pasangan Duhitendu Dewi dan Rajasa Wardhana menurunkan pangeran Badra Wardana yang kemudian melahirkan dinasti Rajasa Wardana dan menjadi pembesar Lasem hingga abad ke 18.
Bhre Lasem Duhitendu Dewi meninggal pada tahun 1382 M sedangkan Rajasa Wardhana meninggal pada tahun 1383 M. Sebelum Duhitendu Dewi meninggal, jabatan Bhre Lasem sudah diserah terimakan pada Kusuma Wardhani, putri Hayam Wuruk yang sebelumnya telah menikah dengan Wikrama Wardhana. Pada saat itu, Duitendu Dewi dipindahkan menjadi Bhre Daha / Kediri menggantikan ibunya Dyah Wiyat Raja Dewi yang wafat. Namun, baik dari Nagarakertagama, Pararaton maupun Carita Lasem tidak menyebutkan secara pasti tahun pergeseran jabatan Duhitendu Dewi menjadi Bhre Daha tersebut.
b. Masa Bhre Lasem Setelah Duhitendu Dewi
Pemerintahan Kusuma Wardhani diperkirakan berlangsung sebentar karena pada saat Kusuma Wardhani menjabat sebagai Bhre Lasem, Majapahit mengalami perpecahan pasca meninggalnya Hayam Wuruk. Perebutan kekuasaan muncul oleh para keturunan Hayam Wuruk. Wikrama Wardhana sebagai menantu serta keponakan Hayam Wuruk naik tahta menggantikan Hayam Wuruk. Bhre Wirabhumi yang merupakan putra Hayam Wuruk dari selir yang juga merupakan putra angkat sekaligus cucu menantu dari Bhre Daha Dyah Wiyat Rajadewi dan Wijaya Rajasa merasa ialah yang berhak menggantikan takhta Majapahit.
Pada saat itu, Majapahit layaknya mempunyai raja kembar yang sama - sama berkuasa. Di istana bagian barat (Trowulan) Wikrama Wardhana naik tahta, sedangkan di istana timur (Daha) Bhre Wirabhumi bertahta, keduanya sama - sama merasa paling sah menjabat sebagai raja Majapahit. Dalam pararaton disebutkan bahwa pada 1298 Saka atau 1376 Masehi (pada akhir pemerintahan Hayam Wuruk) muncullah gunung baru di sebelah timur, yang digambarkan dengan munculnya kerajaan Majapahit baru. Sedangkan kronik Cina pada masa Dinasti Ming pada tahun 1377 M menyebutkan pengiriman dua duta ke Cina untuk mendapatkan pengakuan politik kepada Cina. Kerajaan barat dipimpin oleh Wu-lau-po-wu sedangkan kerajaan timur dipimpin Wu-lau-wang-chieh. Maksud dari Wu-lau-po-wu adalah Bhra Prabu yang merupakan nama lain dari Hayam Wuruk di Majapahit. Sedangkan Wu-lau-wang-chieh adalah Bhre Wengker atau Wijaya Rajasa, suami dari Dyah Wiyat Rajadewi.
Perseturuan keduanya semakin meruncing ketika Wikrama Wardhana mengangkat istrinya Kusuma Wardhani menjadi Bhre Lasem II menggantikan Duhitendu Dewi (Bhre Lasem I). Padahal menurut Bhre WIrabhumi, yang seharusnya manjadi Bhre Lasem adalah istrinya Nagara Wardhani yang marupakan anak dari Duhitendu Dewi. Kemungkinan inilah yang dimaksud didalam pararaton adanya Bhre Lasem Jeng Ahayu (Kusuma Wardhani) dan Bhre Lasem Jeng Alemu (Nagara Wardhani).
Dengan adanya kejadian ini diperkirakan pemerintahan Bhre Lasem II Kusuma Wardhani berlangsung sebentar dan digantikan oleh Nagara Wardhani menjadi Bhre Lasem III sebagai imbas dari adanya persaingan di tubuh Majapahit. Pergantian kekuasaan keduanya diperkirakan tidak sampai berlangsung pertempuran. Masa periode pemerintahan keduanya diperkirakan antara tahun 1390 hingga 1400 karena dikabarkan keduanya sama - sama wafat ditahun tersebut.
Setelah perang paregreg berakhir, kedua istana berhasil di satukan oleh Wikraa Wardhana. Dampak dari perang ini selain nyawa dan materi, kekuasaan Majapahit juga semakin meredup di Nusantara. Terhitung kerajaan seperti Melayu, malaka serta Palembang mulai berani memerdekakan diri dari kekuasaan Majapahit. Selain itu, Wikrama Wardhana juga harus menetralkan keadaan di istana timur. Salah satu usahanya yaitu dengan memboyong putri Bhre Wirabhumi dan Nagara Wardhani sebagai selir. Dari perkawinan ini, lahirlah Suhita yang kemudian menggantikan Wikrama Wardhana sebagai raja Majapahit pada tahun 1429.
Di sisi lain, Wikrama Wardhana harus memberikan ganti rugi kepada Dinasti Ming, penguasa Tiongkok. Ketika Dinasti Ming mengetahui adanya dua kubu yang saling berseturu di Majapahit, Dinasti Ming mengirimkan Cheng Ho untuk menjadi duta perdamaian. Laksamana Cheng Ho saat terjadi perang paregreg berada di istana timur, sehingga ketika terjadi penyerangan, pasukan Cheng Ho juga ada yang terbunuh. Sebanyak 170 orang awak dari Cheng Ho menjadi korban dari serangan Wikrama Wardhana. Wikrama Wardhana kemudian diharuskan untuk membayar 60.000 tahil kepada Dinasti Ming. Namun pada akhirnya Kaisar Yung Lo membebaskan denda tersebut. Peristiwa ini dicatat oleh Ma Huan (sekertaris Cheng Ho) dalam buku Ying-ya-sheng-lan.
Wikrama Wardhana memerintah hingga tahun 1429 dan kemudian digantikan oleh Suhita. Pada periode pemerintahan Suhita di Majapahit tidak ada catatan yang jelas yang membahas tentang Bhre Lasem IV (Nagara Wardhani) istri Bhre Tumapel Kertawijaya. Suhita kemudian digantikan oleh Kertawijaya yang bergelar Bhra Wijaya I pada 1447 hingga 1451. Selama pemerintahan Suhita dan Kertawijaya, pemerintahan Majapahit selama 20 tahun terhitung relatif stabil meskipun ada sedikit konflik namun masih dapat diatasi. Disisi lain banak kerajaan - kerajaan bahawan yang melepaskan diri dari Majapahit seperti Melayu, Malaka, Palembang, Kalimantan Barat, dan Brunei.
Keterangan tentang putri Bhre Pandan Salas sebagai Bhre Lasem tidak terdapat banyak data. Namun menurut sejarawan hasan Djafar, putri Bhre Pandan Salas merupakan raja terakhir di Kerajaan Lasem. Setelah itu tidak terdengar lagi berita tentang Kerajaan Lasem seiring dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit.
Peranan Kerajaan Lasem Dalam Imperium Majapahit
Sumber : Unjiya, M. Akrom. 2014. Lasem Negeri Dampo Awang. Sleman: Salma Idea.
Lasem berada di pesisir pantai utara pulau Jawa dengan suasana tropis, tanah yang subur, hutan, pegunungan serta bentang pantai yang memanjang. Di Lasem terdapat banyak teluk - teluk yang melatar belakangi daerah Lasem berkembang menjadi daerah pelabuhan yang besar pada masanya. Hal ini menjadikan kawasan Lasem sebagai lalu lintas perdagangan antar kerajaan pada masa lampau. Selain garis pantai yang membentang, Lasem juga terdapat daerah dataran serta lembah yang terletak di selatan garis pantai. Di sisi timur Lasem terdapat sebuah gunung bernama Gunung Argopuro.
KERAJAAN LASEM
Penamaan Kerajaan Lasem pertama kali disebut dalam piagam Singosari yang berangka tahun 1273 saka atau 1351 Masehi. Kerajaan Lasem pertama kali dipimpin oleh seorang ratu bernama Ratu Duhitendu Dewi (Indu Dewi) yang bergelar Bhre Lasem. Dewi Indu merupakan sepupu dari Hayam Wuruk, Raja Majapahit. Dari piagam Singosari tersebut menyebutkan bahwa Lasem sebelum 1351 M bukanlah daerah yang penting. Dapat disimpulkan bahwa kemungkinan Lasem telah ada sebelum tahun 1351 M atau bahkan sudah ada pada zaman Kerajaan Kediri sekalipun hanya sebagai daerah setingkat pakuwu atau kadipaten.
Keberadaan Lasem sebagai kerajaan yang berdaulat diperkuat oleh Nagarakertagama yang menyebutakan ketika Arya Wiraraja ayahanda Nambi sakit keras di Lumajang, orang - orang penting Kerajaan Majapahit datang untuk menjenguknya. Salah satu dari rombongan tersebut adalah Adipati Lasem atau "Ra Lasem", seorang loyalis Raden Wijaya yang membantu dalam pendirian Kerajaan Majapahit. Sayangnya Jayanegara, raja yang memimpin Majapahit pada masa itu terhasut oleh omongan Mahapati, bahwa Nambi sedang merencanakan pemberontakan untuk menyerang Kerajaan Majapahit dan sedang menghimpun kekuatan di Lumajang. Jayanegara kemudian mengirim pasukan untuk menggempur Lumajang. Nambi dan pasukannya akhirnya gugur oleh serbuan pasukan Jayanegara termasuk Adipati Lasem yang ikut membela Patih Nambi.
Baca Juga : Nambi, Kisah Arya yang di Fitnah Mahapati
Dari sepengga kisah tersebut bisa disimpulkan bahwa sebelum adanya piagam Singosari tahun 1273 saka atau 1351 Masehi, Lasem sudah ada sebagai suatu daerah berdaulat. Kitab Nagarakertagama juga menyebutkan bahwa Bhre Lasem pertama Duhitendu Dewi merupakan salah satu penguasa dari 11 kerajaan khusus di Jawa. Ia juga menjadi salah satu dari sembilan Dewan Petimbangan Agung Kerajaan Majapahit. Dengan adanya statement ini, bisa disimpulkan bahwa Bhre Lasem mempunyai peranan istimewa di Kerajaan Majapahit. Bila kerajaan - kerajaan lain taklukan Majapahit diatur dalam undang - undang kerajaan Majapahit, berbeda dengan ke sebelas kerajaan yang dikuasakan kepada kerabat raja Majapahit. Kesebelas kerajaan ini merupakan penopang Kerajaan Majapahit baik dalam sisi sosial, ekonomi dan politik bagi keberlangsungan imperium Majapahit di Nusantara.
Sementara itu, dalam Pararaton menyebutkan "Adapaun adik perempuan Hayam Wuruk, Bhre Lasem, menikah dengan Raja Matahun Rajasawardhana; sedangkan adik termuda, Bhre Lasem menurunkan putri bernama Nagarawardhani, yang kemudian dinikahkan dengan putra Hayam Wuruk dari selir, bernama Bhre Wirabhumi. Bhre Wirabhumi nikah dengan Bhre Lasem sang Alemu (Bhre Lasem yang gemuk / Bhre Lasem III)". Dengan begitu, Nagarawardhani dalam Nagarkertagama sama dengan Bhre Lasem jeng Alemu dalam Pararaton.
Selama 120 tahun, Lasem dipimpin oleh lima orang ratu. Pengangkatan perempuan sebagai pemimpin kerajaan senada dengan apa yang ada di Kerajaan Majapahit dengan diangkatnya Tribhuana Tungga Dewi dan Diyah Wiyat sebagai raja yang berkuasa di Kahuripan dan Dhaha.
a. Masa Pemerintahan Duhitendu Dewi (Bhre Lasem I)
Wilayah Lasem pada masa Duhitendu Dewi begitu luas. Bhre Lasem menikah dengan Bhre Matahun, dengan demikian kedua wilayah kerajaan vasal ini menyatu atas hubungan perkawinan. Selain menjabat sebagai Bhre Matahun, Rajasa Wardhana juga menjabat sebagai seorang panglima perang yang memiliki pangkalan laut di pelabuhan Lasem, tepatnya di teluk Regol dan Kairingan. Salah satu dari dua pelabuhan tersebut menjadi bandar perniagaan besar dengan Rajasa Wardhana sebagai Dampoawangnya (syahbandar).
Dalam Carita Lasem diceritakan "Lasem sebagai kota raja yang nyaman, tertata dengan asri dan indah. Keratonnya terletak di bumi Kriyan menghadap ke arah laut dengan agungnya. Di dalamnya terdapat kompleks - kompleks bangunan, balai kambang yang luas, Taman Kamala Puri dan Taman Sari yang teratur dan indah. Di sepanjang jalan - jalan negeri berbagai pepohonan, mandira, sawo kecik berjajar di kiri dan kanan jalan membuat keteduhan. Di setiap perempatan jalan terdapat pohon beringin yang merindang. Pemukiman penduduk tertera dan terpola dengan bentuk joglo berbahan kayu jati yang depannya berteras, halamannya luas serta dipenuhi dengan pepohonan dan bunga - bungaan. Sementara di pedesaan keseburan tanah - tanah olahan para penduduk dengan hasil persawahan dan perkebunan yang melimpah. Dewi Indu (Duitendu Dewi) adalah seorang ratu yang sangat dicintai rakyatnya dan ia pun dijuluki sebagai titisan dari Sang Bathari. Ia memerintah Kerajaan Lasem dengan adil dan bijaksana, pengayom rakyat dengan kekuasaannya yang lurus lagi kuat".
Duhitendu Dewi sebagai Bhre Lasem menikah dengan Rajasa Wardhana sebagai Bhre Matahun. Dua pemimpin kerajaan tersebut kemudian meleburkan wilayah kekuasaannya menjadi satu. Rajasa Wardhana kemudian mengubah Lasem sebagai pangkalan laut Majapahit dengan Teluk Regol dan Kairingan sebagai pangkalan utama kapal tempur dan kapal ekspedisi Majapahit. Tak jauh dari wilayah ini juga terdapat galangan kapal untuk memproduksi kapal tempur dan kapal niaga Kerajaan Majapahit.
Lasem menjadi semakin ramai dari masa ke masa berkembang menjadi wilayah perdagangan antar negeri. Dari pasangan Bhre Lasem dan Bhre Matahun kemudian melahirkan Negara Wardani yang kemudian menjadi pemimpin Lasem selanjutnya (Bhre Lasem kedua) dan diperistri Bhre Wirabumi. Dalam naskah lain menyebutkan bahwa pasangan Duhitendu Dewi dan Rajasa Wardhana menurunkan pangeran Badra Wardana yang kemudian melahirkan dinasti Rajasa Wardana dan menjadi pembesar Lasem hingga abad ke 18.
Bhre Lasem Duhitendu Dewi meninggal pada tahun 1382 M sedangkan Rajasa Wardhana meninggal pada tahun 1383 M. Sebelum Duhitendu Dewi meninggal, jabatan Bhre Lasem sudah diserah terimakan pada Kusuma Wardhani, putri Hayam Wuruk yang sebelumnya telah menikah dengan Wikrama Wardhana. Pada saat itu, Duitendu Dewi dipindahkan menjadi Bhre Daha / Kediri menggantikan ibunya Dyah Wiyat Raja Dewi yang wafat. Namun, baik dari Nagarakertagama, Pararaton maupun Carita Lasem tidak menyebutkan secara pasti tahun pergeseran jabatan Duhitendu Dewi menjadi Bhre Daha tersebut.
b. Masa Bhre Lasem Setelah Duhitendu Dewi
- Bhre Lasem II
Pemerintahan Kusuma Wardhani diperkirakan berlangsung sebentar karena pada saat Kusuma Wardhani menjabat sebagai Bhre Lasem, Majapahit mengalami perpecahan pasca meninggalnya Hayam Wuruk. Perebutan kekuasaan muncul oleh para keturunan Hayam Wuruk. Wikrama Wardhana sebagai menantu serta keponakan Hayam Wuruk naik tahta menggantikan Hayam Wuruk. Bhre Wirabhumi yang merupakan putra Hayam Wuruk dari selir yang juga merupakan putra angkat sekaligus cucu menantu dari Bhre Daha Dyah Wiyat Rajadewi dan Wijaya Rajasa merasa ialah yang berhak menggantikan takhta Majapahit.
Pada saat itu, Majapahit layaknya mempunyai raja kembar yang sama - sama berkuasa. Di istana bagian barat (Trowulan) Wikrama Wardhana naik tahta, sedangkan di istana timur (Daha) Bhre Wirabhumi bertahta, keduanya sama - sama merasa paling sah menjabat sebagai raja Majapahit. Dalam pararaton disebutkan bahwa pada 1298 Saka atau 1376 Masehi (pada akhir pemerintahan Hayam Wuruk) muncullah gunung baru di sebelah timur, yang digambarkan dengan munculnya kerajaan Majapahit baru. Sedangkan kronik Cina pada masa Dinasti Ming pada tahun 1377 M menyebutkan pengiriman dua duta ke Cina untuk mendapatkan pengakuan politik kepada Cina. Kerajaan barat dipimpin oleh Wu-lau-po-wu sedangkan kerajaan timur dipimpin Wu-lau-wang-chieh. Maksud dari Wu-lau-po-wu adalah Bhra Prabu yang merupakan nama lain dari Hayam Wuruk di Majapahit. Sedangkan Wu-lau-wang-chieh adalah Bhre Wengker atau Wijaya Rajasa, suami dari Dyah Wiyat Rajadewi.
- Bhre Lasem III
Perseturuan keduanya semakin meruncing ketika Wikrama Wardhana mengangkat istrinya Kusuma Wardhani menjadi Bhre Lasem II menggantikan Duhitendu Dewi (Bhre Lasem I). Padahal menurut Bhre WIrabhumi, yang seharusnya manjadi Bhre Lasem adalah istrinya Nagara Wardhani yang marupakan anak dari Duhitendu Dewi. Kemungkinan inilah yang dimaksud didalam pararaton adanya Bhre Lasem Jeng Ahayu (Kusuma Wardhani) dan Bhre Lasem Jeng Alemu (Nagara Wardhani).
Dengan adanya kejadian ini diperkirakan pemerintahan Bhre Lasem II Kusuma Wardhani berlangsung sebentar dan digantikan oleh Nagara Wardhani menjadi Bhre Lasem III sebagai imbas dari adanya persaingan di tubuh Majapahit. Pergantian kekuasaan keduanya diperkirakan tidak sampai berlangsung pertempuran. Masa periode pemerintahan keduanya diperkirakan antara tahun 1390 hingga 1400 karena dikabarkan keduanya sama - sama wafat ditahun tersebut.
- Bhre Lasem IV
Setelah perang paregreg berakhir, kedua istana berhasil di satukan oleh Wikraa Wardhana. Dampak dari perang ini selain nyawa dan materi, kekuasaan Majapahit juga semakin meredup di Nusantara. Terhitung kerajaan seperti Melayu, malaka serta Palembang mulai berani memerdekakan diri dari kekuasaan Majapahit. Selain itu, Wikrama Wardhana juga harus menetralkan keadaan di istana timur. Salah satu usahanya yaitu dengan memboyong putri Bhre Wirabhumi dan Nagara Wardhani sebagai selir. Dari perkawinan ini, lahirlah Suhita yang kemudian menggantikan Wikrama Wardhana sebagai raja Majapahit pada tahun 1429.
Di sisi lain, Wikrama Wardhana harus memberikan ganti rugi kepada Dinasti Ming, penguasa Tiongkok. Ketika Dinasti Ming mengetahui adanya dua kubu yang saling berseturu di Majapahit, Dinasti Ming mengirimkan Cheng Ho untuk menjadi duta perdamaian. Laksamana Cheng Ho saat terjadi perang paregreg berada di istana timur, sehingga ketika terjadi penyerangan, pasukan Cheng Ho juga ada yang terbunuh. Sebanyak 170 orang awak dari Cheng Ho menjadi korban dari serangan Wikrama Wardhana. Wikrama Wardhana kemudian diharuskan untuk membayar 60.000 tahil kepada Dinasti Ming. Namun pada akhirnya Kaisar Yung Lo membebaskan denda tersebut. Peristiwa ini dicatat oleh Ma Huan (sekertaris Cheng Ho) dalam buku Ying-ya-sheng-lan.
Wikrama Wardhana memerintah hingga tahun 1429 dan kemudian digantikan oleh Suhita. Pada periode pemerintahan Suhita di Majapahit tidak ada catatan yang jelas yang membahas tentang Bhre Lasem IV (Nagara Wardhani) istri Bhre Tumapel Kertawijaya. Suhita kemudian digantikan oleh Kertawijaya yang bergelar Bhra Wijaya I pada 1447 hingga 1451. Selama pemerintahan Suhita dan Kertawijaya, pemerintahan Majapahit selama 20 tahun terhitung relatif stabil meskipun ada sedikit konflik namun masih dapat diatasi. Disisi lain banak kerajaan - kerajaan bahawan yang melepaskan diri dari Majapahit seperti Melayu, Malaka, Palembang, Kalimantan Barat, dan Brunei.
- Bhre Lasem V
Keterangan tentang putri Bhre Pandan Salas sebagai Bhre Lasem tidak terdapat banyak data. Namun menurut sejarawan hasan Djafar, putri Bhre Pandan Salas merupakan raja terakhir di Kerajaan Lasem. Setelah itu tidak terdengar lagi berita tentang Kerajaan Lasem seiring dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit.
Peranan Kerajaan Lasem Dalam Imperium Majapahit
- Kerajaan Lasem merupakan salah satu dari sebelas kerajaan vasal yang dikuasai oleh kerabat Kerajaan Majapahit.
- Kerajaan Lasem menjadi angkatan laut Majapahit dari masa Duhitendu Dewi hingga putri Bhre Pandan Salas
- Teluk Regol menjadi kawasan perdagangan yang ramai oleh para pedagang baik dari nusantara maupun mancanegara.
Sumber : Unjiya, M. Akrom. 2014. Lasem Negeri Dampo Awang. Sleman: Salma Idea.
0 komentar
Posting Komentar